Monday, July 25, 2016

Kompetensi Auditor Internal

Dalam menunjang kinerjanya, Auditor harus memiliki Kompetensi yang memadai untuk melaksanakan pekerjaannya. Sebagai sebuah hubungan cara-cara setiap individu memanfaatkan pengetahuan, keahlian, dan perilakunya dalam bekerja. Kompetensi diwujudkan dalam kinerja. Jadi, kompetensi dapat dihubungkan ke hal-hal yang berkaitan dengan jenis tugas kontekstual tertentu, yakni berkenaan dengan apa yang harus dikerjakan, dan sebagus apa pekerjaan yang dilakukan (Sawyer’s, 2009:17).

Terdapat beberapa ahli yang mendefinisikan kompetensi auditor diantaranya adalah Mulyadi (2009:58) yang menjelaskan bahwa:
“Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman, setiap anggota harus melakukan upaya untuk mencapai tingkatan kompetensi yang akan meyakinkan bahwa kualitas jasa yang di berikan memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi seperti di syaratkan oleh prinsip etika.”
Menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely suhayati (2010:2) menjelaskan kompetensi adalah:
“Kompetensi artinya auditor harus mempunyai kemampuan, ahli dan berpengalaman dalam memahami kriteria dan dalam menentukan jumlah bahan bukti yang dibutuhkan untuk dapat mendukung kesimpulan yang akan diambil.”
Menurut Arens, et al. (2008:42) yang dialih bahasakan oleh Herman Wibowo menyatakan bahwa:
“Kompetensi sebagai keharusan bagi auditor untuk memiliki pendidikan formal di bidang auditing dan akuntansi, pengalaman praktik yang memadai bagi pekerjaan yang sedang dilakukan, serta mengikuti pendidikan profesional berkelanjutan.”
Spencer dan Spencer dalam Palan (2007:84) mengemukakan bahwa kompetensi menunjukkan karakteristik yang mendasari perilaku yang menggambarkan motif, karakteristik pribadi (ciri khas), konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan atau keahlian yang dibawa seseorang yang berkinerja unggul (superior performer) di tempat kerja. Ada 5 (lima) karakteristik yang membentuk kompetensi yakni:

1. “Pengetahuan; Faktor pengetahuan meliputi masalah teknis, administratif, proses kemanusiaan, dan sistem. 
2. Keterampilan; merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. 
3. Konsep diri dan nilai-nilai; merujuk pada sikap, nilai-nilai dan citra diri seseorang, seperti kepercayaan seseorang bahwa dia bisa berhasil dalam suatu situasi. 
4. Karakteristik pribadi; merujuk pada karakteristik fisik dan konsistensi tanggapan terhadap situasi atau informasi, seperti pengendalian diri dan kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan. 
5. Motif; merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis atau dorongan-dorongan lain yang memicu tindakan.”

Berdasarkan defisinisi diatas kompetensi dapat disimpulkan sebagai segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang berupa pengetahuan ketrampilan dan pengalaman serta faktor-faktor internal individu lainnya untuk dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan.

Komponen Kompensti Auditor internal yang tidak terpisahkan  menurut Mulyadi (2009:58) adalah: 
1. Pendidikan, dan 
2. Pengalaman. 

Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota seyogianya tidak menggambarkan dirinya memiliki keahlian atau pengalaman yang tidak mereka punyai. Dalam semua penugasan dan dalam semua tanggug jawabnya, setiap anggota harus melakukan upaya untuk mencapai tingkatan kompetensi yang akan menyakinkan bahwa kualitas jasa yang diberikan memenuhi tingkat profesionalisme tinggi seperti disyaratkan oleh prinsip etika. 

Pemerintah mensyaratkan Pengalaman Kerja sekurang-kurangnya tiga tahun sebagai akuntan dengan reputasi baik di bidang audit bagi akuntan yang ingin memperoleh izin praktik dalam profesi akuntan publik (Mulyadi, 2009:58). Selain itu untuk meningkatlan kompetensi profesional menurut Jaafar dan Sumiyati (2008: 123) dapat dibagi menjadi 2 fase terpisah: 

a. “Pencapaian kompetensi profesional. Pencapaian kompetensi profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subyek-subyek yang relevan, dan pengalaman kerja. Hal ini harus menjadi pola pengetahuan yang normal untuk anggota. 

b. Pemeliharaan Kompetensi Profesional. 
  • Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota. 
  • Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, termasuk diantaranya pernyataan-pernyataan akuntansi, auditing, dan peraturan lainnya, baik nasional maupun internasional yang relevan. 
  • Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang konsisten dengan standar nasional dan internasional.”
Ilustrasi oleh wartariau

Thursday, July 21, 2016

Plus Minus Pokemon Go

Pokemon go! Siapa yang tidak kenal game yang lagi digandrungi banyak orang ini. Pokemon go sendiri adalah sebuah permainan realitas tertambah dalam smartphone yang dikembangkan oleh Niantic, sebuah perusahaan sempalan milik Google, yang tersedia pada perangkat iOS dan Android secara terbatas di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, dan Jerman.
Pokemon Go
Pokemon sendiri diciptakan oleh Satoshi Tajiri pada tahun 1995. Pada mulanya, Pokémon adalah seri permainan video yang identik dengan konsol Game Boy. Pokémon merupakan permainan video tersukses kedua di dunia setelah serial Mario yang juga dimiliki oleh Nintendo. Pokémon sendiri muncul dalam beragam bentuk, yaitu permainan video, anime, manga, trading cards, buku, mainan, dan masih banyak lagi termasuk sekarang ini dalam bentuk game berbasis augmented reality (realitas tertambah) di ponsel pintar. Permainan Pokemon Go sendiri menggunakan GPS (Sistem Pemosisi Global). Anda bermain dengan berjalan-jalan di dunia nyata menangkap monster virtual yang menggemaskan seperti Pikachu dan Jigglypuff di tempat-tempat dekat lokasi ponsel Anda dan melatih mereka untuk bertanding.

Beberapa istilah yang ada pada permainan ini adalah :
  1. Pokemon: pocket monster (monster paket)
  2. Pokestop: tempat penting
  3. Pokeball: persediaan yang dapat dilempar untuk menangkap Pokemon untuk dilatih
  4. Gym: lokasi dimana Pokemon bertanding satu sama lain
  5. Pikachu: Pokemon yang paling terkenal dan menjadi ikon di budaya Jepang
Setelah mengenal permianan Pokemon go, kita masuk pada judul artikel ini yaitu plus minus permainan ini. Tentu saja setiap permainan memiliki dampak positif dan negatif. Lalu apa yang dapat diberikan oleh aplikasi buatan niantic ini?

Plus
Kita awali dengan Plus atau nilai tambah permainan ini. 
1. Secara langsung membuat pemainnya bergerak dan berolahraga
Permaianan pokemon go adalah permainan berbasis GPS sehingga untuk mendapatkan pokemon dan melakukan aktifitas game ini harus berjalan atau bahkan berlari. Sehingga secara tidak langung tubuh kita akan bergerak dan seperti olahraga. Hal ini tentu saja berbeda dengan game yang lainnya yang cenderung harus berlama-lama di depan PC.
Map Pokemon Go

2.  Menghasilkan pendapatan
Sudah banyak sekali akun-akun pokemon yang dijual di eBay. Caranya adalah memasang iklan pada eBay dengan harga tertentu. Salah satu contohnya adalah artikel yang dimuat oleh kompas menyatakan bahwa Akun "Pokemon Go" Level Tinggi Dijual Jutaan Rupiah. Daftar akun-akun Pokemon Go yang dijual ini sekarang sudah mulai muncul di berbagai situs atau media sosial, antara lain adalah Craiglist, PlayerUp, dan Facebook. Harganya pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah untuk yang berlevel tinggi dan memiliki pokemon langka.
Harga akun pokemon go di eBay


Minus
Sedangkan untuk dampak negatif dari pokemon go diantaranya adalah sebagai berikut: 
1. Menyita Waktu dan membuat tidak Fokus
Pokemon go sangatlah menyita waktu dan membuat orang cenderung ketagihan dan meninggalkan pekerjaannya. Kata Psikolog Vidyastuti, Jumat (15/7/2016) yang dikutip dari tribun news "Itu dampak dasar ketika orang bermain, secara umum akan menghabiskan waktu dan hal lain menjadi teralihkan. Apalagi game ini cara memainkan harus dengan berjalan ke luar rumah atau berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain,".

2. Membahayakan Jiwa Penggunanya
Banyak sekali kasus-kasus yang berikaitan dengan pokemon go. Dicuplik dari Liputan6.com dilaporkan bahwa dua orang gamer di kalifornia dikabarkan terjatuh dari tebing saat sedang bermain Pokemon Go. Kejadian tersebut berlangsung pada Rabu, 13 Juli 2016 pukul 13.10 waktu setempat. Selain itu, solopos.com mengabarkan bahwa terjadi kecelakaan fatal terjadi di Auburn, New York, Amerika Serikat. Sebuah mobil menabrak pohon dan mengalami kerusakan lumayan parah.“Sang pengemudi mengakui kalau dia sedang memainkan Pokemon Go sembari mengemudi yang membuat dia hilang konsentrasi sehingga menabrak pohon,” demikian keterangan dari kepolisian setempat.
Kecelakaan Parah karena Pokemon go oleh Solopos
3. Dijadikan Modus
Akhir-akhir ini ada larangan untuk memainkan permainan pokemon go. Diantaranya larangan kapolri untuk memainkan pokemon diwilayah kepolisian. Kemudian adanya larangan memainkan pokemon di wilayah istana. Beberapa larangan ini sangat beralasan mengingat permainan ini dapat dijadikan modus untuk memata-matai suatu lokasi yang rahasia. Bahkan ada modus lain dimana ada pemuda yang kepergok melakukan mesum namun beralasan sedang mencari pokemon. Hal itu dikabarkan oleh brilio.net dimana di Sukoharjo, Jawa Tengah, sepasang muda-mudi terpergok mesum di sebuah ruko. Setelah ditangkap warga, mereka mengelak dituduh berbuat mesum. Namun pemuda tersebut mengelak dakwaan warga dan beralasan sedang mencari pokemon. Ada-ada saja memang! Hati-hati bagi para orang tua jika punya pemuda seperti ini!

Memang banyak sekali dampak plus dan minus terhadap permainan pokemon go. Kita sebagai user permainan tersebut tentu saja harus bijak untuk menggunakannya. Jangan sampai hanya demi pokemon pekerjaan utama kita terganggu. Saran saya adalah gunakan permainan ini untuk sarana refreshing dari suntuknya rutinitas sekaligus berolahraga. Syukur-syukur dapat menjual akun dan mendapatkan penghasilan darinya. Untuk pemerintah sebaiknya punya cara lain selain hanya melarang dengan surat edarannya. Alangkah baiknya pemerintah langsung mengontak google agar didaerah yang sangat vital tidak dapat menggunakan map atau bahkan di hapus dari peta google. Mengingat ini adalah hak teritorial NKRI.

Demikian sedikit ulasan mengenai Plus dan Minus Pokemon go. Ini menurut pemikiran saya, Jika Anda memiliki pemikiran yang lain, silahkan berikan komentar pada kolom yang telah disediakan. Salam gamers!!

Daftar Pustaka:
  1. BBC, Pokemon Go: Semua yang perlu diketahui, 12 Juli 2016, diperoleh tanggal 21 Juli pada situs http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160712_majalah_pokemon_go
  2. Kompas tekno, Akun "Pokemon Go" Level Tinggi Dijual Jutaan Rupiah, 18 Juli 2016, diperoleh tanggal 21 Juli pada situs: http://tekno.kompas.com/read/2016/07/18/13120017/Akun.Pokemon.Go.Level.Tinggi.Dijual.Jutaan.Rupiah
  3. Liputan6, Duh, Gara-Gara Pokemon Go Gamer Ini Terjatuh dari Tebing, 16 Juli 2016, diperoleh dari situs: http://tekno.liputan6.com/read/2553518/duh-gara-gara-pokemon-go-gamer-ini-terjatuh-dari-tebing
  4. Solopos, Mobil Remuk Tabrak Pohon Akibat Pengemudi Kejar Pokemon, 14 Juli 2016, diperoleh dari situs: http://www.solopos.com/2016/07/14/demam-pokemon-go-mobil-remuk-tabrak-pohon-akibat-pengemudi-kejar-pokemon-737168

Wednesday, July 13, 2016

Hidup Tanpa Tujuan Itu Hambar

Hidup adalah suatu proses yang memiliki arah dan tujuan. Tanpa arah dan tujuan kita akan tersesat dan tidak akan pernah mendapatkan makna dari hidup. Bagaikan masakan tanpa garam = "hambar". Bagi Anda yang hidup namun belum memiliki arah tujuan, silahkan luangkan waktu beberapa menit untuk membaca tulisan ini. Bagi saya, Hidup tanpa tujuan itu Hambar!

Kenapa hambar? karena kita tidak akan mencapai makna dari kehidupan ini. Tidak ada tantangan, tidak ada goal yang diraih dan kita tidak akan pernah mengetahui arah jalan hidup kita. Apakah sekarang ini Anda berumur 40 tahun masih lajang dan tanpa pekerjaan? Apakah Anda berumur 40 tahun punya pasangan namun tidak ada pekerjaan? Atau Anda berumur 40 tahun memiliki pekerjaan yang hebat namun tidak memiliki pasangan? ini adalah salah satu contoh apakah Anda memiliki goal untuk hidup di umur 40 tahun memiliki pasangan, pekerjaan hebat dan keturunan yang lucu! Semoga Anda yang membaca tulisan ini berumur 30 tahun kebawah sehingga Anda dapat menanta dan menyusun kembali tujuan dan goal hidup.
Ilustrasi oleh psikologikita
Ada orang yang bilang, saya akan menjalani hidup ini seperti air yang mengalir. Iya, air mengalir-pun memiliki tujuan dan arah, apakah turun ke lautan atau keatas menjadi butiran hujan. Disaat orang membutuhkan panduan hidup, maka disini kitab suci dari agama hadir. Buat saya adalah Alquran sebagai pedoman hidup. Dimana kita akan mendapatkan berbagai guide atau panduan untuk mendapatkan makna hidup, tujuan hidup dan arah hidup. Berikut ini saya Cuplik dari motivasi-islami.com tentang makna hidup menurut Alquran:
  1. Hidup Adalah Ibadah, Seperti yang tertuang pada (QS Adz Dzaariyaat:56),
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
    Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia agar menyembany-Nya (Ibadah). Dalam hal ini beribadah bukan sebatas menjalankan rukun islam seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Namun juga dapat diimplementasikan dengan kehidupan sehari-hari seperti bekerja, bersuami, beristri, dan menjalankan sendi-sendi kehidupan yang lainnya.
    Untuk itu, jika tujuan hidup kita adalah beribadah, maka baiknya kita niatkan segala sesuatu yang kita lakukan dengan niat beribadah hanya kepada Allah SWT.

  2. Hidup Adalah Ujian, Allah berfirman dalam QS Al Mulk [67] : 2 yang terjemahnya,
    ”(ALLAH) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
    Allah akan menguji manusia melalui hal-hal sebagai berikut sesuai dengan QS Al Baqarah [2]:155-156 sbb,
    “dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.”
    Jika hidup ini adalah ujian, maka layaknya kita selalu bersabar dan bertawakal karna Allah. Karena sesungguhnya segala ujian dan cobaan disertai dengan solusinya beserta derajat ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
  3. Kehidupan Akhirat adalah Lebih Baik, Dalam QS Ali ‘Imran [3]:14,
    “ dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).“
    QS Adh Dhuha [93]:4, “dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
    Kehidupan ini adalah sebuah permulaan untuk mencari bekal pada kehidupan diakhirat. Maka dari itu kita harusnya menyiapkan sebaik-baiknya dan mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk tujuan hidup di akhirat kelak.
  4. Hidup Adalah Sementara, Dalam QS Al Mu’min [40]:39, Allah berfirman, “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.“
    Dalam QS Al Anbiyaa [21]:35, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.“
    Seperti yang dibahas pada poin ketiga diatas bahwa hidup didunia ini hanyalah sementara. Hanya "nunut ngombe" (bahasa jawa). Suatu saat kita akan kembali pada sang pencipta. Semua yang diperoleh didunia akan kita tingalkan untuk menghadap sang pencipta. lalu kita bisa apa?Jika demikian adanya, Alangkah baiknya kita menyiapkan diri dan memantaskan diri untuk kembali dengan keadaan yang baik.
Demikian tadi beberapa bait tulisan yang mengingatkan terutama bagi diri saya sendiri Agar hidup kita tidak hambar. Memiliki tujuan dan Arah sehingga kita tidak akan menyesal karena telah tersesat. Apabila dalam tulisan ini adalah kesalahan, sangat senang sekali apabila ada koreksi dari pembaca. Sekian dan terimakasih.



Daftar Pustaka :
  • Rahmat Mr. Power, Motivasi islam, didapat pada tanggal 13 Juni 2016 pada http://www.motivasi-islami.com/mencari-makna-hidup-agar-hidup-lebih-bermakna/

Wednesday, July 6, 2016

Standar Profesi Audit Internal (SPAI) #2 Standar Kinerja

Standar profesi audit internal (SPAI) diterbitkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal membagi standar audit menjadi dua kelompok besar yaitu Standar Atribut dan Standar Kinerja. Berikut ini uraian lengkap standar profesi audit internal (SPAI) yang dikutip dari buku pusdiklat bpkp yang disusun oleh Jaafar (2008:89-103):

  1. Standar Atribut
  2. Standar Kinerja
Ilustrasi oleh cmawebline

a. Pengelolaan Fungsi Audit Internal

Penanggung jawab fungsi audit internal harus mengelola fungsi audit internal secara efektif dan efisien untuk memastikan bahwa kegiatan fungsi tersebut memberikan nilai tambah bagi organisasi.

1) Perencanaan

Penanggung jawab fungsi audit internal harus menyusun perencanaan yang berbasis risiko (risk-based plan) untuk menetapkan prioritas kegiatan audit internal, konsisten dengan tujuan organisasi.

Rencana penugasan audit internal harus berdasarkanpenilaian risiko yang dilakukan paling sedikit setahunsekali. Masukan dari pimpinan dan dewan pengawasorganisasi serta perkembangan terkini harus jugadipertimbangkan dalam proses ini. Rencana penugasanaudit internal harus mempertimbangkan potensi untukmeningkatkan pengelolaan risiko, memberikan nilaitambah dan meningkatkan kegiatan organisasi.

2) Komunikasi dan Persetujuan

Penanggung jawab fungsi audit internal harusmengomunikasikan rencana kegiatan audit, dan kebutuhansumberdaya kepada pimpinan dan dewan pengawasorganisasi untuk mendapat persetujuan. Penanggungjawab fungsi audit internal juga harus mengomunikasikandampak yang mungkin timbul karena adanya keterbatasansumberdaya.

3) Pengelolaan Sumberdaya

Penanggung jawab fungsi audit internal harus memastikanbahwa sumberdaya fungsi audit internal sesuai, memadai,dan dapat digunakan secara efektif untuk mencapairencana-rencana yang telah disetujui.

4) Kebijakan dan Prosedur

Penanggung jawab fungsi audit internal harus menetapkan kebijakan dan prosedur sebagai pedoman bagi pelaksanaan kegiatan fungsi audit internal.

5) Koordinasi

Penanggung jawab fungsi audit internal harus berkoordinasi dengan pihak internal dan eksternal organisasi yang melakukan pekerjaan audit untuk memastikan bahwa lingkup seluruh penugasan tersebut sudah memadai dan meminimalkan duplikasi.

6) Laporan kepada Pimpinan dan Dewan Pengawas

Penanggung jawab fungsi audit internal harus menyampaikan laporan secara berkala kepada Pimpinan dan Dewan Pengawas mengenai perbandingan rencana dan realisasi yang mencakup sasaran, wewenang, tanggung jawab, dan kinerja fungsi audit internal. Laporan ini harus memuat permasalahan mengenai risiko, pengendalian, proses governance , dan hal lainnya yang dibutuhkan atau diminta oleh pimpinan dan dewan pengawas.

b. Lingkup Penugasan

Fungsi audit internal melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian, dan governance, dengan menggunakan pendekatan yang sistematis, teratur dan menyeluruh.

1) Pengelolaan Risiko

Fungsi audit internal harus membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian intern.

2) Pengendalian

Fungsi audit internal harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian intern yang efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisiensi dan efektivitas pengendalian tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian intern secara berkesinambungan.

a) Berdasarkan hasil penilaian risiko, fungsi auditinternal harus mengevaluasi kecukupan danefektivitas sistem pengendalian intern, yangmencakupgovernance, kegiatan operasi dan sisteminformasi organisasi. Evaluasi sistem pengendalianintern harus mencakup:
  • Efektivitas dan efisiensi kegiatan operasi.
  • Keandalan dan integritas informasi.
  • Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Pengamanan aset organisasi.
b) Fungsi audit internal harus memastikan sampaisejauh mana sasaran dan tujuan program sertakegiatan operasi telah ditetapkan dan sejalan dengansasaran dan tujuan organisasi.

c) Auditor internal harus mereviu kegiatan operasi dan program untuk memastikan sampai sejauh mana hasil-hasil yang diperoleh konsisten dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

d) Untuk mengevaluasi sistem pengendalian intern

e) diperlukan kriteria yang memadai.

3) ProsesGovernance

Fungsi audit internal harus menilai dan memberikanrekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan prosesgovernancedalam mencapai tujuan-tujuan berikut:

a) Mengembangkan etika dan nilai-nilai yang memadai didalam organisasi.

b) Memastikan pengelolaan kinerja organisasi yangefektif dan akuntabel.

c) Secara efektif mengomunikasikan risiko danpengendalian kepada unit-unit yang tepat di dalamorganisasi.

d) Secara efektif mengoordinasikan kegiatan dari,danmengomunikasikan informasi di antara pimpinan,dewan pengawas, auditor internal dan eksternal sertamanajemen.

Fungsi audit internal harus mengevaluasi rancangan,implementasi dan efektivitas dari kegiatan, program dansasaran organisasi yang berhubungan dengan etikaorganisasi.

c. Perencanaan Penugasan

Auditor internal harus mengembangkan dan mendokumentasikan rencana untuk setiap penugasan yang mencakup ruang lingkup, sasaran, waktu, dan alokasi sumberdaya.

1) Pertimbangan Perencanaan

Dalam merencanakan penugasan, auditor internal harus mempertimbangkan:

a) Sasaran dan kegiatan yang sedang direviu dan mekanisme yang digunakan kegiatan tersebut dalam mengendalikan kinerjanya.

b) Risiko signifikan atas kegiatan, sasaran, sumberdaya, dan operasi yang direviu serta pengendalian yang diperlukan untuk menekan dampak risiko ke tingkat yang dapat diterima oleh organisasi.

c) Kecukupan dan efektivitas pengelolaan risiko dan sistem pengendalian intern.

d) Peluang yang signifikan untuk meningkatkan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian intern.

2) Sasaran Penugasan

Sasaran untuk setiap penugasan harus ditetapkan.

3) Ruang Lingkup Penugasan

Agar sasaran penugasan tercapai maka fungsi audit internal harus menentukan ruang lingkup penugasan yang memadai.

4) Alokasi Sumber Daya Penugasan

Auditor internal harus menentukan sumber daya yang sesuai untuk mencapai sasaran penugasan. Penugasan staf harus didasarkan pada evaluasi atas sifat dan kompleksitas penugasan, keterbatasan waktu, dan ketersediaan sumber daya.

5) Program Kerja Penugasan

Auditor internal harus menyusun dan mendokumentasikan program kerja dalam rangka mencapai sasaran penugasan.

Program kerja harus menetapkan prosedur untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi selama penugasan. Program kerja ini harus memperoleh persetujuan sebelum dilaksanakan. Perubahan atau penyesuaian atas program kerja harus segera mendapat persetujuan.

d. Pelaksanaan Penugasan

Dalam melaksanakan audit, auditor internal harus mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan.

1) Mengidentifikasi Informasi

Auditor internal harus mengidentifikasi informasi yang memadai, handal, relevan, dan berguna untuk mencapai sasaran penugasan.

2) Analisis dan Evaluasi

Auditor internal harus mendasarkan kesimpulan dan hasil penugasan pada analisis dan evaluasi yang tepat.

3) Dokumentasi Informasi

Auditor internal harus mendokumentasikan informasi yang relevan untuk mendukung kesimpulan dan hasil penugasan.

4) Supervisi Penugasan

Setiap penugasan harus disupervisi dengan tepat untuk memastikan tercapainya sasaran, terjaminnya kualitas, dan meningkatnya kemampuan staf.

e. Komunikasi Hasil Penugasan

Auditor internal harus mengomunikasikan hasil penugasannya secara tepat waktu.

1) Kriteria Komunikasi

Komunikasi harus mencakup sasaran dan lingkuppenugasan, simpulan, rekomendasi, dan rencana tindaklanjutnya.

· Komunikasi akhir hasil penugasan, bilamemungkinkan memuat opini keseluruhan dankesimpulan auditor internal.

· Auditor internal perlu memberikan apresiasi, dalamkomunikasi hasil penugasan, terhadap kinerja yangmemuaskan dari kegiatan yang direviu.

· Bilamana hasil penugasan disampaikan kepada pihak di luar organisasi, maka pihak yang berwenang harus menetapkan pembatasan dalam distribusi dan penggunaannya.

2) Kualitas Komunikasi

Komunikasi yang disampaikan baik tertulis maupun lisan harus akurat, objektif, jelas, ringkas, konstruktif, lengkap, dan tepat waktu.

Kesalahan dan kealpaan. Jika komunikasi final mengandung kesalahan dan kealpaan, penanggung jawab fungsi audit internal harus mengomunikasikan informasi yang telah dikoreksi kepada semua pihak yang telah menerima komunikasi sebelumnya.

3) Pengungkapan atas Ketidak-patuhan terhadap Standar

Dalam hal terdapat ketidak-patuhan terhadap standar yang mempengaruhi penugasan tertentu, komunikasi hasil-hasil penugasan harus mengungkapkan:

· Standar yang tidak dipatuhi.

· Alasan ketidak-patuhan.

· Dampak dari ketidak-patuhan terhadap penugasan.

4) Penyampaian Hasil-hasil Penugasan

Penanggung jawab fungsi audit internal harusmengomunikasikan hasil penugasan kepada pihak yangberhak

f. Pemantauan Tindak Lanjut

Penanggung jawab fungsi audit internal harus menyusun dan menjaga sistem untuk memantau tindak lanjut hasil penugasan yang telah dikomunikasikan kepada manajemen.

Penanggung jawab fungsi audit internal harus menyusun prosedur tindak lanjut untuk memantau dan memastikan bahwa manajemen telah melaksanakan tindak lanjut secara efektif, atau menanggung risiko karena tidak melakukan tindak lanjut.

g. Resolusi Penerimaan Risiko oleh Manajemen

Apabila manajemen senior telah memutuskan untuk menanggung risiko residual yang sebenarnya tidak dapat diterima oleh organisasi, penanggung jawab fungsi audit internal harus mendiskusikan masalah inidengan manajemen senior. Jika diskusi tersebut tidak menghasilkan keputusan yang memuaskan, maka penanggung jawab fungsi audit internal dan manajemen senior harus melaporkan hal tersebut kepada Pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi untuk mendapatkan resolusi.

Sunday, July 3, 2016

Standar Profesi Audit Internal (SPAI) #1 Standar Atribut

Standar profesi audit internal (SPAI) diterbitkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal membagi standar audit menjadi dua kelompok besar yaitu Standar Atribut dan Standar Kinerja. Berikut ini uraian lengkap standar profesi audit internal (SPAI) yang dikutip dari buku pusdiklat bpkp yang disusun oleh Jaafar (2008:89-103):

Standar Atribut
Standar Profesi Audit Internal (SPAI) #1 Standar Atribut

a. Tujuan, Kewenangan, dan Tanggung jawab
Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab fungsi audit internal harus dinyatakan secara formal dalam Charter Audit Internal, konsisten dengan Standar Profesi Audit Internal (SPAI), dan mendapat persetujuan dari Pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi.

b. Independensi dan Objektivitas
Fungsi audit internal harus independen, dan auditor internal harus objektif dalam melaksanakan pekerjaannya.
  1. Independensi Organisasi, Fungsi audit internal harus ditempatkan pada posisi yang memungkinkan fungsi tersebut memenuhi tanggung jawabnya. Independensi akan meningkat jika fungsi audit internal memiliki akses komunikasi yang memadai terhadap Pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi.
  2. Objektivitas Auditor Internal, Auditor internal harus memiliki sikap mental yang objektif, tidak memihak dan menghindari kemungkinan timbulnya pertentangan kepentingan (conflict of interest).
  3. Kendala terhadap Prinsip Independensi dan Objektivitas, Jika prinsip independensi dan objektivitas tidak dapat dicapai baik secara fakta maupun dalam kesan, hal ini harus diungkapkan kepada pihak yang berwenang. Teknis dan rincian pengungkapan ini tergantung kepada alasan tidak terpenuhinya prinsip independensi dan objektivitas tersebut.

c. Keahlian dan Kecermatan Profesional
Penugasan harus dilaksanakan dengan memerhatikan keahliann dan kecermatan profesional.
  1. Keahlian, Auditor internal harus memiliki pengetahuan, ketrampilan,dan kompetensi lainnya yang dibutuhkan untukmelaksanakan tanggung jawab perorangan. Fungsi AuditInternal secara kolektif harus memiliki atau memperolehpengetahuan, ketrampilan, dan kompetensi lainnya yangdibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawabnya. a)Penanggung jawab Fungsi Audit Internal harusmemperoleh saran dan asistensi dari pihak yangkompeten jika pengetahuan, ketrampilan, dankompetensi dari staf auditor internal tidak memadaiuntuk pelaksanaan sebagian atau seluruhpenugasannya. b) Auditor Internal harus memiliki pengetahuan yangmemadai untuk dapat mengenali, meneliti, danmenguji adanya indikasi kecurangan. c) Fungsi Audit Internal secara kolektif harus memiliki pengetahuan tentang risiko dan pengendalian yang penting dalam bidang teknologi informasi dan teknik- teknik audit berbasis teknologi informasi yang tersedia.
  2. Kecermatan Profesional, Auditor Internal harus menerapkan kecermatan dan ketrampilan yang layaknya dilakukan oleh seorang auditor internal yang prudent dan kompeten.
    Dalam menerapkan kecermatan profesional auditor internal perlu mempertimbangkan:
    a) Ruang lingkup penugasan.
    b) Kompleksitas dan materialitas yang dicakup dalam penugasan.
    c) Kecukupan dan efektivitas manajemen risiko, pengendalian, dan proses governance.
    d) Biaya dan manfaat penggunaan sumber daya dalam penugasan.
    e) Penggunaan teknik-teknik audit berbantuan komputer dan teknik-teknik analisis lainnya.
  3. Pengembangan Profesional yang Berkelanjutan (PPL), Auditor internal harus meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan kompetensinya melalui Pengembangan Profesional yang Berkelanjutan.

d. Program Quality Assurance fungsi Audit Internal
Penanggung jawab Fungsi Audit Internal harus mengembangkan dan memelihara program quality assurance, yang mencakup seluruh aspek dari fungsi audit internal dan secara terus menerus memonitor efektivitasnya. Program ini mencakup penilaian kualitas internal dan eksternal secara periodik serta pemantauan internal yang berkelanjutan. Program ini harus dirancang untuk membantu fungsi audit internal dalam menambah nilai dan meningkatkan operasi perusahaan serta memberikan jaminan bahwa fungsi audit internal telah sesuai dengan Standar dan Kode Etik Audit Internal.
  1. Penilaian terhadap ProgramQuality Assurance, Fungsi audit internal harus menyelenggarakan suatuproses untuk memonitor dan menilai efektivitas programquality assurancesecara keseluruhan. Proses ini harusmencakup penilaian (assessment) internal maupuneksternal.
    a) Penilaian Internal. Fungsi audit internal harusmelakukan penilaian internal yang mencakup:
    o Reviu yang berkesinambungan atas kegiatan dankinerja fungsi audit internal, dan
    o Reviu berkala yang dilakukan melaluiselfassessmentatau oleh pihak lain dari dalamorganisasi yang memiliki pengetahuan tentangstandar dan praktek audit internal.
    b) Penilaian Eksternal. Penilaian eksternal harus dilakukan sekurang-kurangnya sekali dalam tiga tahun oleh pihak luar perusahaan yang independen dan kompeten.
  2. Pelaporan Program Quality Assurance, Penanggung jawab fungsi audit internal harus melaporkan hasil reviu dari pihak eksternal kepada Pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi.
  3. Pernyataan Kesesuaian dengan SPAI, Dalam laporan kegiatan periodiknya, auditor internal harus memuat pernyataan bahwa aktivitasnya ‘dilaksanakan sesuai dengan Standar Profesi Audit Internal’. Pernyataan ini harus didukung dengan hasil penilaian Program Quality Assurance.
  4. Pengungkapan atas Ketidakpatuhan, Dalam hal terdapat ketidak-patuhan terhadap SPAI dan Kode Etik yang mempengaruhi ruang lingkup dan aktivitas fungsi audit internal secara signifikan, maka hal ini harus diungkapkan kepada Pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi.

Friday, July 1, 2016

Kode Etik Audit Internal

Ilustrasi
Definisi dari etika itu sendiri menurut A.Arens, et al. (2008:98) yang dialih bahasakan oleh Herman Wibowo adalah Etika (ethics) secara garis besar dapat diartikan sebagai serangkaian prinsip atau nilai moral.

Bagi profesi audit internal, kode etik merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan dalam pelaksanaan tugas professional terutama yang menyangkut manajemen risiko, pengendalian dan proses tatakelola.

Menurut Institute of Internal Auditors (IIA) dan dikutip oleh Moh.Wahyudin Zarkasyi (2008:25) bahwa ada dua komponen penting dalam kode etik auditinternal, diantaranya yaitu :
1.Prinsip-prinsip yang relevan dengan profesi maupun praktik audit internal.
2. Rule of conduct yang mengatur norma perilaku yang diharapkan dari auditor internal.
Adapun penjelasan dari kedua komponen penting dalam kode etik audit internal tersebut yaitu :

a. IntegritasIntegritas dari auditor internal menimbulkan kepercayaan dan memberikan basis untuk mempercayai keputusannya.

b. ObjektifAuditor internal membuat penilaian yang berimbang atas hal-hal yang relevan dan tidak terpengaruh kepentingan pribadi atau pihak lain dalam pengambilan keputusan.

c. ConfidentialAuditor internal harusmenghargai nilai-nilai dan pemikiran atas informasi yang mereka terima dan tidak menyebarkan tanpa izin kecuali ada kewajiban profesional.

d. KompetensiAuditor internal menerapkan pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang diperlukan untuk melaksanakan jasa audit internal.