Friday, August 19, 2016

Kinerja Auditor Internal

Kinerja secara etimologi, berasal dari kata prestasi kerja (performance). Menurut Hasibuan (2009:94) prestasi kerja atau kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yag dibebankan kepadanya, yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu. Definisi kinerja karyawan menurut A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2005:9) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dilakukan oleh seseorang yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan, dan waktu.
Kinerja Auditor Internal
Esya (2008) mendefiniskan Kinerja Auditor adalah sebagai ekspresi potensi kerja auditor berupa perilaku kerja seorang auditor dalam melaksanakan tugas kerja untuk mencapai hasil kerja yang optimal, yang dapat diukur melalui faktor obyektif (hasil kerja dan disiplin kerja) dan factor subjektif (inisiatif, kerjasama dan loyalitas). 

Definisi "Kinerja auditor" menurut Goldwasser (1993) dalam Fannani dkk (2008) adalah:
Kinerja auditor merupakan perwujudan kerja yang dilakukan dalam rangka mencapai hasil keria yang lebih baik atau lebih menonjol ke arah tercapainya tujuan organisasi. Pencapaian kinerja auditor yang lebih baik harus sesuai dengan standar dan kurun waktu tertentu, yaitu: (1) kualitas kerja—yaitu mutu penyelesaian pekerjaan dengan bekerja berdasar pada seluruh kemampuan dan keterampilan, serta pengetahuan yang dimiliki oleh auditor; (2) kuantitas kerja—yaitu jumlah hasil kerja yang dapat diselesaikan dengan target yang menjadi tanggung jawab pekerjaan auditor, serta kemampuan untuk memanfaatkan sarana dan prasarana penunjang pekerjaan; (3) ketepatan waktu—yaitu ketepatan penyelesaian pekerjaan sesuai dengan waktu yang tersedia.”
Menurut beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian Kinerja Auditor adalah suatu hasil karya yang dicapai oleh seseorang auditor dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya secara kualitas dan kuantitas yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan waktu yang diukur dengan mempertimbangkan kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu.

Adapun dimensi dan indikator kinerja auditor menurut menurut Goldwasser (1993) dalam Fannani dkk (2008) adalah: 

1. Kualitas kerja, yaitu: 
a. Mutu penyelesaian pekerjaan dengan bekerja berdasar pada seluruh kemampuan dan keterampilan, serta
b. Pengetahuan yang dimiliki oleh auditor; 
2. Kuantitas kerja, yaitu: 
a. Jumlah hasil kerja yang dapat diselesaikan dengan target yang menjadi tanggung jawab pekerjaan auditor,
b. Serta kemampuan untuk memanfaatkan sarana dan prasarana penunjang pekerjaan; 
3. Ketepatan waktu, yaitu: 
Ketepatan penyelesaian pekerjaan sesuai dengan waktu yang tersedia.

Friday, August 12, 2016

Terhadap Kinerja Auditor Internal, Apa Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor Internal?

Indonesia merupakan negeri yang sedang berkembang yang memiliki berbagai jenis perusahaan yang beraneka ragam. Terdapat perusahaan swasta maupun perusahaan milik pemerintah yang ikut meramaikan persaingan usaha di bumi pertiwi ini. Dengan perusahaaan yang selalu berkembang, manajemen tidak bisa mengawasi secara langsung kinerja perusahaan apakah sudah berjalan secara efektif, efisien dan ekonomis. Salah satu profesi yang dapat diberdayakan oleh manajemen untuk melakukan fungsi pengawasan ini adalah Auditor Internal. Audit internal adalah sebuah aktivitas konsultasi dan keyakinan objektif yang dikelola secara independen di dalam organisasi dan diarahkan oleh filosofi penambahan nilai untuk meningkatkan operasional perusahaan (Sawyer 2009 : 8). Keberadaan Audit Internal pada BUMN sudah diatur berdasarkan Undang-undang RI No. 19 Tahun 2003 mengenai BUMN Pasal 67 yang menyebutkan bahwa pada setiap BUMN dibentuk satuan Pengawas internal yang merupakan aparat pengawas internal perusahaan. 

Audit internal membantu organisasi dalam mencapai tujuan dengan menerapkan pendekatan yang sistematis dan berdisiplin untuk mengevakuasi kontrol dan pengelolaan organisasi (Sawyer, 2009 : 8). Auditor internal 
diharapkan dapat membuat kinerja perusahaan lebih efektif, efisien dan ekonomis. Melalui pengawasan internal yang baik dapat diketahui apakah suatu perusahaan pemerintah telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien, serta sesuai dengan rencana, kebijakan perusahaan yang telah ditetapkan, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga perlu ditingkatkan kinerja para auditor agar dapat membatu tercapainya tujuan perusahaan.

Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yag dibebankan kepadanya, yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu. Kinerja auditor merupakan perwujudan kerja yang dilakukan dalam rangka mencapai hasil kerja yang lebih baik atau lebih menonjol ke arah tercapainya tujuan organisasi. Pencapaian kinerja auditor yang lebih baik harus sesuai dengan standar dan kurun waktu tertentu. 

Menurut Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan tantangan bagi daya saing Indonesia. Sehingga, peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi hal yang mutlak diperlukan, termasuk bagi internal auditor. Ia menambahkan, kesiapan aparat internal auditor dalam meghadapi MEA menjadi kunci keberhasilan indonesia ke depan. "Kalau tenaga kerja terdidik kita tidak siap, maka bisa kita bayangkan nanti tenaga internal auditor datang dari pasar bebas ASEAN," ujar Wamenkeu dalam Seminar Nasional Internal Audit 2015 di Solo, Rabu (15/04). Ungkapan dari Wamenkeu ini tentu saja menjadi pertanyaan besar apakah auditor internal telah benar-benar siap untuk menghadapi MEA, apakah kinerja auditor internal sudah siap menghadapi auditor-auditor dari pasar bebas ASEAN, dan apakah auditor internal sudah siap bersaing dengan auditor internal dari ASEAN. (http://www.kemenkeu.go.id/Berita/hadapi-mea-auditor-internal-harus-tingkatkan-daya-saing).

Akibat dari kinerja auditor yang tidak baik adalah terjadinya kompromi antara koruptor dan auditor. Menurut Roy Salam seorang peneliti dari Indonesia Budget Center (IBC) “terjadi cincai-cincai (kompromi) antara auditor dengan koruptor” (sumber: http://www.jpnn.com/ read/ 2014/ 06/ 06/ 238674/ Yang-Terjadi,-Cincai-cincai-Auditor-dengan-Koruptor-). Hal ini tentu saja menjadi kabar yang kurang baik terhadap kinerja auditor. Selain itu, sepanjang semester pertama 2014 BPK menemukan 8.323 kasus ketidakpatuhan pada perundang-undangan senilai Rp 30,87 triliun dan 6.531 kasus kelemahan sistem pengendalian internal (Sumber: http://www.tempo.co). Fenomena-fenomena diatas menujukkan bahwa kinerja auditor masih rendah sehingga dibutuhkan kinerja auditor yang baik secara kualitas dan kuantitas agar negara ini terbebas dari korupsi dengan auditor-auditor yang memiliki kompetensi serta indepensi yang baik dalam melaksanakan profesinya. PT Kereta Api Indonesia (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara dimana juga memiliki Auditor internal yang memiliki tugas untuk membantu perusahaan mencapai tujuannya. Menarik untuk diketahui bagaimana kesiapan auditor internal di PT KAI (Persero) menghadapi pasar bebas ASEAN.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja diantaranya adalah Kompetensi dan Independensi seorang auditor. Sebagai sebuah hubungan cara-cara setiap individu memanfaatkan pengetahuan, keahlian, dan perilakunya dalam bekerja. Kompetensi diwujudkan dalam kinerja. Jadi, kompetensi dapat dihubungkan ke hal-hal yang berkaitan dengan jenis tugas kontekstual tertentu, yakni berkenaan dengan apa yang harus dikerjakan, dan sebagus apa pekerjaan yang dilakukan (Sawyer’s, 2009:17). Auditor internal juga harus menjaga reputasinya agar tetap objektif dan bebas dari bias. Sebagai sebuah profesi, auditor internal memiliki kerangka ilmu (Common body of knowledge). Kerangka tersebut membentuk dasar-dasar konseptual dan berlakunya sebagai standar pendidikan, pelatihan, perekrutan, dan uji kompetensi bagi yang ingin menjadi seorang auditor. Kompetensi dapat diwujudkan dalam kinerja. Jadi, kompetensi dapat dihubungkan kedalam hal-hal yang berhubungan dengan tugas kontekstual tertentu, yakni berkenaan dengan apa yang harus dikerjakan dan sebagus apa yang harus dilakukan. 
Kinerja Auditor via cybex
Selain itu, untuk memenuhi predikat auditor yang profesional seorang auditor harus memiliki independensi untuk memenuhi kewajiban profesionalnya. Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untuk memenuhi kewajiban profesionalnya; memberikan opini objektif, tidak bias, dan tidak dibatasi; dan melaporkan masalah apa adanya, bukan melaporkan sesuai keinginan eksekutif atau lembaga. Auditor internal harus bebas dari hambatan dalam melaksanakan auditnya. Hanya dengan begitu auditor internal bisa disebut melaksankan audit dengan profesional (Sawyer’s, 2009:35). Kompetensi dan independensi memberikan pengaruh yang positif terhadap kinerja para auditor internal (Oktaria dan Tjandrakirana : 2012).

Wednesday, August 10, 2016

Independensi Auditor Internal

Auditor juga harus bebas dari pengaruh klien dalam melaksanakan auditnya dan melaporkan temuan-temuannya. Independensi menurut Hery (2010:74) adalah suatu kemandirian yang dapat memberikan penilaian yang tidak memihak dan tanpa prasangka. Mulyadi (2009:26) menjelaskan bahwa independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain.
Independensi menurut Sawyer’s (2009:7) merupakan suatu sikap yang harus bebas dari hambatan, memberikan opini yang objektif, tidak bias, tidak dibatasi, dan melaporkan masalah yang sebenarnya, bukan berdasarkan keinginan eksekutif atau lemabaga. Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa indepensi merupakan suatu sikap yang bebas dan tidak terpengaruh, tidak memihak, dan melaporkan suatu kejadian sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Kumaat (2011:9) menjelaskan bahwa independensi merupakan kata kunci yang paling penting untuk menilai peran internal audit. Kumaat menambahkan bahwa “Independensi internal audit” = keberpihakan internal audit pada kebenaran factual, yang di tinjau dari:
1. “Adanya bukti serta data material yang otentik, relevan, dan cukup
2. Adanya praktek bisnis yang menjunjung tinggi etika/moral serta memperhatika resiko terukur
3. Adanya kapasitas tanggung jawab dan wewenang seseorang yang terukur dalam organisasi bisnis
4. Adanya administrasi dan pengendalian yang memadai serta konsisten.”
Sedangkan menurut Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) (2007:24) menjelaskan bahwa Independensi adalah sebagai berikut:
“Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksa, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya.”
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Independensi sikap mental yang bebas dari pengaruh dari gangguan pribadi, ekstern dan organiasi serta melaporkan suatu kejadian sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Independensi Auditor Internal
Menurut Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (2007:25-29) yang mengemukakan tiga macam gangguan terhadap independensi yaitu: 

1. “Gangguan Pribadi 

Organisasi pemeriksa harus memiliki sistem pengendalian mutu intern untuk membantu menentukan apakah pemeriksa memiliki gangguan pribadi terhadap independensi. Organisasi pemeriksa perlu memperhatikan gangguan pribadi terhadap independensi petugas pemeriksanya .Gangguan pribadi yang disebabkan oleh suatu hubungan dan pandangan pribadi mungkin mengakibatkan pemeriksa membatasi lingkup pertanyaan dan pengungkapan atau melemahkan temuan dalam segala bentuknya. Pemeriksa bertanggung jawab untuk memberitahukan kepada pejabat yang berwenang dalam organisasi pemeriksanya apabila memiliki gangguan pribadi terhadap independensi. Gangguan pribadi dari pemeriksa secara individu meliputi antara lain: 
  • a. Memiliki hubungan pertalian darah ke atas, ke bawah, atau semenda sampai dengan derajat kedua dengan jajaran manajemen entitas atau program yang diperiksa atau sebagai pegawai dari entitas yang diperiksa, dalam posisi yang dapat memberikan pengaruh langsung dan signifikan terhadap entitas atau program yang diperiksa. 
  • b. Memiliki kepentingan keuangan baik secara langsung maupun tidaklangsung pada entitas atau program yang diperiksa. 
  • c. Pernah bekerja atau memberikan jasa kepada entitas atau program yangdiperiksa dalam kurun waktu dua tahun terakhir. 
  • d. Mempunyai hubungan kerjasama dengan entitas atau program yang diperiksa. 
  • e. Terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan obyek pemeriksaan, seperti memberikan asistensi, jasa konsultasi, pengembangan sistem, menyusun dan/ atau mereviu laporan keuangan entitas atau program yang diperiksa. 
  • f. Adanya prasangka terhadap perorangan, kelompok, organisasi atau tujuan suatu program, yang dapat membuat pelaksanaan pemeriksaan menjadiberat sebelah. 
  • g. Pada masa sebelumnya mempunyai tanggung jawab dalam pengambilankeputusan atau pengelolaan suatu entitas, yang berdampak pada pelaksanaan kegiatan atau program entitas yang sedang berjalan atau sedang diperiksa. 
  • h. Memiliki tanggung jawab untuk mengatur suatu entitas atau kapasitasyang dapat mempengaruhi keputusan entitas atau program yang diperiksa, misalnya sebagai seorang direktur, pejabat atau posisi senior lainnya dari entitas, aktivitas atau program yang diperiksa atau sebagai anggota manajemen dalam setiap pengambilan keputusan, pengawasan atau fungsi monitoring terhadap entitas, aktivitas atau program yang diperiksa. 
  • i. Adanya kecenderungan untuk memihak, karena keyakinan politik atau sosial, sebagai akibat hubungan antar pegawai, kesetiaan kelompok, organisasi atau tingkat pemerintahan tertentu. 
  • j. Pelaksanaan pemeriksaan oleh seorang pemeriksa, yang sebelumnya pernah sebagai pejabat yang menyetujui faktur, daftar gaji, klaim, dan pembayaran yang diusulkan oleh suatu entitas atau program yang diperiksa. 
  • k. Pelaksanaan pemeriksaan oleh seorang pemeriksa, yang sebelumnya pernah menyelenggarakan catatan akuntansi resmi atas entitas/unit kerja atau program yang diperiksa. 
  • l. Mencari pekerjaan pada entitas yang diperiksa selama pelaksanaanpemeriksaan. 

2. Gangguan Ekstern 

Gangguan ekstern bagi organisasi pemeriksa dapat membatasi pelaksanaan pemeriksaan atau mempengaruhi kemampuan pemeriksa dalammenyatakan pendapat atau simpulan hasil pemeriksaannya secara independen dan obyektif. Independensi dan obyektifitas pelaksanaan suatu pemeriksaan dapat dipengaruhi apabila terdapat: 
  • a. Campur tangan atau pengaruh pihak ekstern yang membatasi atau mengubah lingkup pemeriksaan secara tidak semestinya. 
  • b. Campur tangan pihak ekstern terhadap pemilihan dan penerapan prosedur pemeriksaan atau pemilihan sampel pemeriksaan. 
  • c. Pembatasan waktu yang tidak wajar untuk penyelesaian suatu pemeriksaan. 
  • d. Campur tangan pihak ekstern mengenai penugasan, penunjukan, dan promosi pemeriksa. 
  • e. Pembatasan terhadap sumber daya yang disediakan bagi organisasi pemeriksa, yang dapat berdampak negatif terhadap kemampuan organisasi pemeriksa tersebut dalam melaksanakan pemeriksaan. 
  • f. Wewenang untuk menolak atau mempengaruhi pertimbangan pemeriksa terhadap isi suatu laporan hasil pemeriksaan. 
  • g. Ancaman penggantian petugas pemeriksa atas ketidaksetujuan dengan isi laporan hasil pemeriksaan, simpulan pemeriksa, atau penerapan suatu prinsip akuntansi atau kriteria lainnya. 
  • h. Pengaruh yang membahayakan kelangsungan pemeriksa sebagai pegawai, selain sebab-sebab yang berkaitan dengan kecakapan pemeriksa atau kebutuhan pemeriksaan. 

3. Gangguan Organisasi 

Independensi organisasi pemeriksa dapat dipengaruhi oleh kedudukan, fungsi, dan struktur organisasinya. Dalam hal melakukan pemeriksaan, organisasi pemeriksa harus bebas dari hambatan independensi. Pemeriksa yang ditugasi oleh organisasi pemeriksa dapat dipandang bebas dari gangguan terhadap independensi secara organisasi, apabila melakukan pemeriksaan di luar entitas tempat ia bekerja.”

Thursday, August 4, 2016

Cara Mencetak (Print) Artikel Menjadi Sebuah Buku (Booklet)

Membaca sebuah artikel pada sebuah laptop atau PC dengan membaca langsung di Buku amatlah berbeda. Saya rasakan membaca melalui media laptop dan PC lebih cepat membuat mata lelah dan tidak dapat menandai apa yang kita baca. Apalagi artikel yang di baca ber-format .pdf. Beda lagi membaca melalui buku. Jika membaca langsung dari buku amatlah mudah dan dapat diberikan tanda seperti sekat/pembatas dan di beri mark menggunakan pensil atau pensil warna.
Booklet via fedex
Nah, berbicara hal tersebut, saya memiliki sedikit tips jika Anda menginginkan membaca artikel dari hasil download atau file berjenis digital dan menjadikannya buku. Bagaimana cara mencetak (print) artikel menjadi sebuah buku arga mudah dibaca, ditandai dan dibawa sebagai pengingat. Silahkan ikuti cara sebagai berikut ini.

1. Buka dokumen/file berbentuk digital anda baik berbentuk dokumen dari microsoft office ataupun pdf;
2. Setelah file terbuka pencet CTRL+P pada keyboard atau PRINT;

3. Setting print dan Pilih BOOKLET;
4. Pastikan page setup dokumen sama dengan kertas dokumen yang akan mencetak file dan Anda dapat mengatur dengan beberapa pilihan didalamnya; 
5. Setelah semua settingan terpilih, klik OK lalu klik tombol PRINT;
6. Proses mencetak akan dilakukan secara bertahap karena booklet atau buku yang dibuat halamnnya bolak-balik;
7. Tahap pertama, cetakan dengan urutan ganjil. 
8. Tahap kedua, pada layar monitor akan terbuka jendela (Warning Printer) untuk mencetak halaman genap. Perhatikan cara menaruh kertas hasil cetakan tahap pertama dengan posisi seperti yang ditampilkan pada layar.

9. Setelah semua tercetak Anda hanya perlu melipat dan mensteples hasil print agar nampak seperti buku.


Dengan beberapa langkah diatas, buku yang dapat mempermudah Anda dalam proses membaca telah selesai. Perlu diingat bahwa ketika proses mencetak (Print) pastikan tidak ada kertas yang slip karena dapat membuat pekerjaan mencetak buku/booklet berantakan. Demikian sedikit tips dari masimam (dot) com semoga bermanfaat!